Sejarah Hari Pahlawan,10 November 1945
2
Penjelasan lebih rinci mengenai kronologi sejarah Peristiwa 10 November yakni sebagai berikut:
- Kedatangan Tentara Inggris yang diboncengi oleh Tentara Belanda
Namun, kedatangan Tentara Inggris ternyata diboncengi oleh Tentara Belanda NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng ke Indonesia untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Hal ini memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia dimana-mana untuk melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA. Baca juga Agresi Militer Belanda 1, Agresi Militer Belanda 2, dan masa penjajahan Belanda di Indonesia.
- Pengibaran Bendera Belanda di Hotel Yamato
Setiap tempat strategis dan berbagai tempat lainnya dikibarkan bendera Indonesia. Misalnya, di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (Kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jalan Pahlawan) yang berlokasi di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas Gedung Inernatio. Gerakan pengibaran bendera ini disusul barisan pemuda dari segala penjuru di Surabaya. Mereka membawa bendera Indonesia datang ke Tambaksari (lapangan Stadion Gelora 10 November) dalam rangka menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.
Lapangan Tambaksari dipenuhi lambaian bendera merah putih yang disertai pekik “Merdeka” yang diteriakkan massa. Rapat terus berlangsung meskipun pihak Kempetai melarang rapat tersebut. Namun, pihak Kempetai tidak mampu menghentikan dan membubarkan massa rakyat Surabaya tersebut. Puncak dari gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi saat insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru atau Hotel Yamato atau Oranje Hotel (saat ini bernama Hotel Majapahit) yang berlokasi di Jalan Tunjungan No. 65 Surabaya.
Insiden Hotel Yamato diawali dengan sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W. V. Ch Ploegman pada malam hari, tepatnya pukul 21.00 pada tanggal 19 September 1945, yang mengibarkan bendera Belanda (merah-putih-biru). Hal ini dilakukan tanpa persetujuan Pemerintah Republik Indonesia Daerah Surabaya. Pengibaran dilakukan di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara.
Kabar tersebut tersebar ke seluruh kota Suarabaya, sehingga dalam waktu singkat Jalan Tunjungan dibanjiri oleh massa yang geram. Residen Sudirman, seorang pejuang dan diplomat yang sedang menjabat sebagai Wakil Residen sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah Republik Indonesia, datang menemui Mr. Ploegman. Sudirman dikawal oleh Sidik dan Hariyono saat berunding dengan Mr. Ploegman untuk menurunkan bendera tersebut.
Ploegman menolak untuk menurunkan bendera Belanda dan menolak mengakui kedaulatan Indonesia. Ia kemudian mengeluarkan pistol dan terjadi perkelahian dalam ruang perundingan. Ia tewas dicekik oleh Sidik, yang juga tewas oleh Tentara Belanda yang berjaga-jaga. Sudirman dan Haryono melarikan diri ke luar Hotel Yamato.
Para pemuda akhirnya mendobrak pintu hotel hingga terjadi perkelahian di lobi hotel. Mereka berebut untuk bisa naik ke lantai atas. Hariyono kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam pemanjatan tiang bersama Kusno Wibowo. Mereka berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya kembali ke puncak tiang. Peristiwa perobekan bendera Belanda tersebut disambut oleh massa di bawah hotel dengan pekik “Merdeka” berulang kali.
Setelah kejadian tersebut maka meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris pada 27 Oktober 1945. Serangan-serangan kecil kemudian berubah menjadi serangan yang banyak menelan korban jiwa di kedua belah pihak. Pihak Inggris, melalui Jenderal D. C. Hawthorn, akhirnya meminta bantuan Presiden Soekarno untuk meredakan ketegangan yang terjadi. Baca juga sejarah Monumen Tugu Pahlawan, bangunan bersejarah di Surabaya dan masjid bersejarah di Indonesia.
- Tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby
Hal ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia. Mereka kemudian menggantikan Mallaby dengan Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh. Selain itu, dikeluarkan juga ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada Tentara AFNEI dan Administrasi NICA.
- Peristiwa 10 November
Sepuluh November pagi, Tentara Inggris mulai melancarkan serangan. Mereka mendapatkan perlawanan dari pasukan dan milisi Indonesia. Para pejuang kemerdekaan,seperti Bung Tomo, menggerakkan rakyat Surabaya pada masa itu untuk berjuang melawan. Para tokoh-tokoh agama, seperti KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah, mengerahkan santri-santri dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan. Baca juga sejarah Hari Santri dan pahlawan nasional dari NTB.
Perlawanan berlangsung alot selama sekitar tiga minggu. Pada awalnya perlawanan rakyat berlangsung secara spontan dan tidak terkoordinasi, tetapi semakin hari makin teratur. Sekitar 6.000 – 16.000 pejuang dari pihak Indonesia kehilangan nyawanya dan 200.000 rakyat sipil mengungsi. Sebanyak 600 – 2.000 pasukan Inggris dan India tewas dalam pertempuran tersebut.
Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban menjadikan hari ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik Indonesia. Baca juga pahlawan nasional dari Jawa Timur dan museum di Surabaya.
Sumber : https://sejarahlengkap.com/indonesia/kemerdekaan/pasca-kemerdekaan/sejarah-peristiwa-10-november
